Ketulusan dan Cinta
Ketulusan dan Cinta
“Jusuf Kalla & mufidah”
Suaranya lembut,
tampilan dan sikapnya tenang. Itulah Mufidah Miad Saad. Seorang ibu yang setia
menopang karir suaminya, Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keberhasilan JK dalam
dunia usaha dan politik tak terlepas dari dukungan wanita Minangkabau kelahiran
Sibolga 12 Februari 1943 ini.
Bak kata pepatah, asam
di gunung ikan di laut bertemu dalam kuali. Itulah yang terjadi pada pasangan
ini. Khasnya orang Minang yang berjiwa perantau, begitu pula keluarga Mufidah.
Ayahnya, H. Buya Mi'ad dan Ibu Sitti Baheram dari Sumatera Barat merantau ke
Sibolga, Sumatera Utara hingga ke Makassar Sulawesi Selatan.
Di kota Angin Mamiri,
Mufidah akhirnya bertemu JK. Mufidah yang biasa dipanggil Ida adalah gadis
belia yang bertemu pandang dengan JK untuk pertama kalinya saat menginjak
bangku SMA Negeri III Makassar. Di masa sekolah inilah, tahun 1962 awal mula
persemaian cinta Mufidah dengan JK, pria Bugis kelahiran Watampone 15 Mei 1942.
Mufidah menyebut kalau
JK sudah menunjukkan ketertarikan kepadanya sejak SMA. Namun Ida menanggapinya
biasa saja. Dan memang, tidak mudah bagi JK mendapatkan cinta Ida.
Setelah tamat SMA, Ida
bekerja di bank BNI 1946. Sambil bekerja, ia melanjutkan pendidikannya di di
Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Mengetahui
Mufidah bekerja sambil kuliah, dua hal langsung dilakukan JK. Pertama, menabung
di BNI 1946 dan menjadi asisten dosen di UMI Makassar. Tujuannya tak lain untuk
bertemu dengan pujaan hatinya. “Seringkali bahkan nyaris setiap hari, Bapak
datang menabung,” kenang Ida, penuh senyum mengenang peristiwa puluhan tahun
silam itu.
Di kampus pun demikian.
Sebagai mahasiswi UMI Makassar yang diajar oleh JK, suatu ketika Ida lupa
membawa pulpen dan sang asisten dosen langsung menawarinya pulpen berwarna
keemasan. Ida menerima dengan perasaan senang bercampur malu.
Sekali waktu Ida diuji
oleh teman-teman JK. Ia disuruh memilih kartu bertuliskan “ARA”, kartu nama
kelompok belajar JK. Tak mengerti apa maksudnya, Ida mengambil saja kartu itu.
Ida lalu diberitahu, kalau kartu tersebut sebagai tanda jadi hubungannya dengan
JK. Ida bingung, sementara JK dan empat orang sahabatnya bersorak kegirangan
lalu merayakannya berkeliling kota dengan dokar.
Walau sudah diuji
berulangkali, sikap Ida tak berubah. Biasa saja! JK tak kehabisan akal. JK
memberanikan diri memperlihatkan dirinya berboncengan dengan seorang wanita.
Teman sekampusnya di Unhas, yang memang menaruh hati padanya. Mengetahui hal
tersebut, Mufidah meminta JK datang ke rumahnya. “Malam itu saya bilang ke
Bapak, saya berterima kasih ke Bapak. Selama ini, saya berat mengatakannya,
maklum saya ini orang Minang dan ayah-ibu saya berat melepas saya untuk orang
Bugis. Jadikan sajalah yang dibonceng di kampus itu,” kenang Ida.
Mufidah lalu menyebutkan
merasa bersyukur JK menemukan tambatan hatinya. Ia meminta agar hubungan mereka
tetap terjaga seperti saudara, pintu rumah selalu terbuka untuk JK. Lalu Ida
mengulurkan tangan, menyalami JK.
Namun JK menolak uluran
tangan tersebut. “Saya tidak suka sama orang itu, dan saya betul-betul sudah
salah. Saya cuma ingin memanas-manasi Ida,” kata Ida, menirukan ucapan JK. Saat
itu Ida merasa cemburu, namun tak sedikitpun memperlihatkannya. Ia tetap saja
tenang. Akhirnya JK beranjak pulang dengan lunglai disaksikan oleh seluruh
saudara Ida. Kesedihan JK semakin lengkap saat pulang ke rumah, adiknya sedang
memutar gramofon yang mendendangkan lagu “Patah Hati” dari Rachmat Kartolo.
Bukan JK kalau lama
terpekur. JK segera menemui Paman Mufidah dan bertanya kemungkinan melamar Ida.
Paman itu malah menyarankannya agar langsung melamar ke orangtua Ida. Dan saat
itulah palu godam menghujam tubuh JK. Ia kemudian tahu, kalau Ida sudah
dijodohkan dengan seorang pria asal Minang, yang sedang menempuh pendidikan di
Amerika.
JK langsung menemui Ida
dan mengkonfirmasi hal tersebut. “Saya memang dijodohkan. Ia sekarang
bersekolah di Amerika,” kata Ida terus terang.
“Jadi kamu terima
tidak? Ia gagah dan saya tidak? Saya tidak terima perjodohan itu! Bagaimana
dengan saya? Kamu terima saya ya?” JK mendesak, galau.
“Kita lihat saja
nanti...” timpal Ida, tenang.
Beberapa hari dari
pertemuannya dengan Ida itu, JK memberanikan diri langsung melamar Mufidah.
Lamaran Kalla tidak langsung diterima oleh Buya Mi'ad dan Sitti Baheram, orangtua
Ida. Sebab, bagaimanapun mereka telah menyiapkan jodoh untuk putri tunggalnya.
Akhirnya mereka sepakat
menyerahkan persoalan sepenuhnya kepada Ida. Namun sebagaimana tipikal wanita
Minang kebanyakan, Ida yang putri tunggal dari sebelas bersaudara balik
menyerahkan pengambilan keputusan kepada orang tuanya. “Saya bilang, terserah
Emak dan Ayah. Kalau seandainya diterima, Alhamdulillah. Kalau seandainya
tidak, ya tidak apa-apa juga.”
“Karena kalimat itu,
orangtua saya berpikir saya setuju. Dan lamaran JK pun diterima,” urai Mufidah.
Keduanya lalu bertunangan tahun 1966 dan menikah setahun kemudian, menunggu Ida
menyelesaikan kuliahnya.
Kala itu JK sudah
terkemuka sebagai politisi muda Golkar, mantan aktivis KAMMI, anggota DPRD
Sulawesi Selatan, pendiri Sekber Golkar Sulawesi Selatan.Walau karir politik JK
sedang menanjak, namun mertunya mengultimatum suaminya menentukan pilihan.
Meneruskan usaha NV. Hadji Kalla atau tidak?
Saat itu Mufidah
mengandung anak kedua, NV. Hadji Kalla mengalami kesulitan setelah Presiden
Soekarno mengeluarkan kebijakan sanering, berupa pemangkasan nilai mata uang
rupiah seribu kali lebih rendah, misal dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Akhirnya, JK
pun memutuskan memilih meneruskan usaha keluarga. Di tangan JK, usaha NV. Hadji
Kalla berkembang dari sebelumnya bergerak di bidang hasil bumi menanjak ke
usaha distributor mobil. Mufidah ikut andil di awal kebangkitan NV. Hadji
Kalla. Ia ikut bekerja sebagai sekretaris pribadi JK merangkap juru keuangan
perusahaan. “Tahun 1969, NV. Hadji Kalla sudah berkembang. Saat itu, saya masih
bekerja sebagai juru keuangan perusahaan," kenangnya.
Di balik pria hebat,
selalu terdapat perempuan hebat. Adagium inilah yang tepat untuk Mufidah.
Ketulusan dan cintanya “mengantar” JK menjadi Wakil Presiden RI untuk yang
kedua kalinya.
Sumber : Aisyah Inara
http://rilis.id/mufidah-jusuf-kalla-ketulusan-dan-cinta

Komentar
Posting Komentar